Menu

welcome

Rawatlah Pasienmu Dengan Ikhlas Dan Penuh Rasa Tanggung Jawab

Jumat, 20 April 2012

Goa Jatijajar Kebumen


DARI sejumlah obyek wisata di Kabupaten Kebumen, Goa Jatijajar masih menjadi primadona. Obyek wisata yang terletak 21 km sebelah barat daya Kecamatan Gombong itu setiap tahun ramai dikunjungi pengunjung.

Pengunjung yang datang pun sangat beragam, tak selalu datang dari masyarakat di sekitar Kebumen. Mereka ada pula yang datang dari kota-kota besar di Indonesia, yang tujuannya ingin mengetahui pesona alam di dalam perut bumi.

Tidak sedikit pula keistimewaan yang ditawarkan dari obyek wisata Gua Jatijajar. Di dalam gua ada sungai bawah tanah yang masih aktif. Ada juga dua sendang, yakni Sendang Kantil dan Sendang Mawar. Di dua sendang yang bisa didekati pengunjung itu masih dipercayai, yang mau membasuh muka dengan air sendang bisa awet muda.


Aliran air dari Sendang Mawar melewati lubang sempit hingga tembus luar gua. Namun pada dasar Sendang Kantil dijumpai lubang sempit memanjang, sehingga menelusuri gua itu harus melalui penyelaman.

Masih ada lagi dua sendang, yakni Sendang Jombor dan Puserbumi. Kedua sendang ini dikeramatkan. Hanya dengan izin pengelola, lorong gua itu boleh dilalui. Orang tertentu yang punya keinginan, dengan menaruh sesaji di sendang itu, konon akan dikabulkan doanya.

Soal asal muasal Goa Jatijajar memang tidak orang yang mengetahui secara persis. Namun konon cerita, Gua Jatijajar pertama kali ditemukan seorang petani desa itu yang bernama Djajamenawi pada tahun 1802. Lelaki itu tak sengaja terperosok ke dalam gua. Setelah tanah penutup lorong dibersihkan oleh warga, dijumpai lubang masuk ke dalam gua itu.

Dari kisah penduduk, ada dua versi mengenai asal usul Gua Jatijajar. Pertama, setelah Djajamenawi menemukan gua, tak lama kemudian Bupati Ambal, salah satu penguasa Kebumen waktu itu, meninjau lokasi tersebut.

Saat mendatangi gua, dia menjumpai dua pohon jati tumbuh berdampingan dan sejajar pada tepi mulut gua. Dari kisah itu lalu ditemukan istilah Jatijajar, dari kata 
jati yang sejajar.

Sejak 1974, Pemerintah Kabupaten Kebumen dan Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mulai menangani gua itu sebagai objek wisata. Setahun kemudian, di sepanjang lorong gua ditempatkan 32 patung yang menggambarkan legenda Raden Kamandaka. Legenda itu sangat terkenal di daerah Banyumas.

Dari versi ini, saat Kamandaka dikejar-kejar Silihwarni, dari dalam gua ia menyebutkan jati dirinya. Ia mengaku sebagai putra mahkota Pajajaran. Dari kisah itu muncul kata 
sejatine (sebenarnya) danPejajaran. Nama Gua Jatijajar lalu terkenal hingga saat ini. (berbagai sumber)
(tty)

Tidak ada komentar: