Menu

welcome

Rawatlah Pasienmu Dengan Ikhlas Dan Penuh Rasa Tanggung Jawab

Minggu, 22 April 2012

Asuhan Keperawatan Megacolon ( Hisprung )


LAPORAN PENDAHULUAN
HIRSCHPRUNG

A.     KONSEP DASAR

1.       Pengertian
Hirschsprung adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus, tersering pada neomatus, kebanyakan terjadi pada bayi aterum dengan berat lahir ³ 3 kg lebih banyak pada laki-laki dari pada perempuan. (Arif Mansjoer, dkk, 2000)

2.       Etiologi
Penyakit ini disebabkan aganglianosis meisner dan Aurbach dalam lapisan dinding usus, mulai dari spingter ani internus ke arah proximal, 70 % terbatas didaerah vokto sigmoid, 10 % sampai seluruh kolon dan sekitarnya, 5 % dapat mengenai seluruh usus dan pilorus.

3.       Patofisiologi

4.       Tanda dan Gejala
Gejala Hirschsprung adalah obstruksi usus letak rendah. Bayi dengan Hirschsprung dapat menunjukkan gejala klinis sebagai berikut :

a.       Obstruksi total saat lahir, dengan muntah, distruksi abdomen dan ketiadaan evaluasi mekarium.
b.       Keterlambatan evakuasi mekonium diikuti obstruksi periodik yangmembaik secara spontan maupun dengan enema.
Bayi sering mngalami konstipasi, muntah dan dehidrasi.
c.       Gejala  ringan berupa konstipaso selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut.
d.      Konstipasi ringan, enterokolitis dengan diare, distensi abdomen dan demam. Diare berbau busuk dapat menjadi satu-satunya gejala.
e.       Gejala hanya konstipasi ringan.

5.       Komplikasi
-    Enterokolitis nekrotikans
-    Pneumatosis usus
-    Obses peri kalan
-    Perfuasi dan sepsi kemia

6.       Penatalaksanaan
a.       Konservatif pada neomatus dilakukan pemasangan sande lambung serta pipa roetal untuk mengeluarkan mekaniusm dan udara.
b.      Tindakan badan sementara, kolestomi pada neomatus, terlambat diagnosi, enterokolitis berat dan keadaan umum buruk.
c.       Tindakan bedah dofinitif dilakukan dengan monoseksi bagian usus aganglionik dan membuat anastomosis

7.       Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan foto pas abdomen terlihat tanda obstruksi usus letak rendah. Pada pemeriksaan enema barim terlihat lumen rekto sigmoid kecil, bagian  proksimalnya terlihat daerah transisi dan kemudian melebar. Agar tidak mengaburkan hasil, 24 jam sebelum dilakukan calok dubur maupun pemasangan pipa rektal. Bila foto enema barium tidak menunjukkan tanda khas Hirschsprung dilakukan foto notasi barium 24 sampai 48 jam setelah foto enema barium pertama. Barium tampak membair dengan feses kearah proksimal dalam kolon berganglion normal. Bila telah terjadi enterokolitis dapat timbul gambaran penebalan mogulalis mukosa kolon.
Pemeriksaan patologi anatomis dengan biopsi isap mukosa dan sub mukosa memiliki akurasi 100 %. Tidak dijumpainya sel ganglian moisner disertai penebalan serabut saraf menegakkan diagnosis Hirschsprung, sedangkan ditemukan sel ganglion, meskipun imatur menyingkirkan diagnosis Hirschsprung.

B.      ASUHAN KEPERAWATAN

I.        Pengkajian

a.       Pengumpulan Data
1)      Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pekerjaan, suku bangsa, tgl. MRS, No. Reg diagnosa medis.
2)      Keluhan utama
Biasanya pasien dengan Hirsehsprung mengalami kosntipasi, muntah dan dehidrasi.
3)      Riwayat kesehatan dahulu
Yang perlu dikaji adalah tentang penyakit yang pernah diderita Px sebelumnya.
4)      Riwayat penyakit sekarang
Merupakan kelainan bawaan yaitu obstruksi usus fungsional, obstruksi total saat lahir dan muntah, distensi abdomen dan ketiadaan evaluasi mekanium bayi sering mengalami konstipasi muntah dan dehidrasi. Gejala ringan merupakan konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut.
5)      Riwayat penyakit keluarga
Yang perlu dikaji adalah tentang penyakit yang pernah diderita oleh keluarga.
b.       Pola Fungsi Kesehatan
1.       Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Perlu dikaji kebiasaan Px, mandi dan persepsi Px terhadap penyakit yang diderita.
2.       Pola Nutrisi dan Metabolisme
Perlu dikaji kebiasaan makan Px dirumah dan selama dirumah sakit mengalami nafsu makan, mempunyai alergi terhadap makanan tertentu.


3.       Pola Eliminasi
Perlu kaji tentang proses eliminasi alvi dan uri. Pada Px Hirschsprung terjadi gangguan pola elimiasi alvi.
4.       Pola Istirahat Tidur
Perlu dikaji apakah ada g angguan pada istirahat dan tidur.
5.       Pola Sensori dan Kognitif
Perlu kaji tentang pengetahuan klien terhadap penyakit yang diderita seta mengenai panca indera Px.
6.       Pola Reproduksi Seksual
Perlu dikaji status Px belum menikah.
7.       Pola Penanggulangan Stress
Perlu dikaji tentang cara Px dalam menggangulangi suatu masalah.
8.       Pola Aktivitas dan Latihan
Perlu dikaji aktivitas Px sehari-hari serta aktivitas Px dibantu atau tidak.
9.       Pola Hubungan Peran
Perlu dikaji hubungan Px dan keluarga, teman kerja dan teman sejawat.

II.     DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.       Gangguan eliminasi Alvi (BAB) aobstipasi berhubungan dengan spastis usus dan tidak adanya daya dorong
2.       Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
3.       Kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan muntah dan diare.
4.       Ganguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan distensi abdomen.

III.  PERENCANAAN
1.       Gangguan eliminasi Alvi (BAB) aobstipasi berhubungan dengan spastis usus dan tidak adanya daya dorong
Tujuan : Tidak terjadi obstipasi dalam waktu 1 x 24 jam
KH : - Defekasi normal
         - Tidak terjadi gangguan eliminasi alvi
Rencana Tindakan :
1.       Monitor cairan yang keluar dari kolestemi / rektal cube
R/ Mengetahui warna dan konsistansi feces dan menentukan rencana selanjutntya
2.       Pantau jumlah cairan kolestemi / rektal cube
R/  Jumlah cairan yang keluar dapat dipertimbangkan untuk pengantian cairan.
3.       Pantau pengaruh diit terhadap pada defekasi
R/ Untuk mengetahui sifat diet yang mempengaruhi pola defekasi terganggu.
4.       Kenali tanda-tanda adanya sumbatan, seperti tidak adanya feces yang terbentuk selema beberapa hari
R/ Intervensi dini perlu untuk mengetahui konstipasi secam efektif / feces yang tertahan dan mengurangi resiko terjadinya komplikasi.
5.       Masukkan selang nektal juka diperlukan
R/ Mengurangi distruksi usus yang meningkatkan respon autunom
2.       Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi dalam waktu 1 x 24 jam
KH : Dapat mentoleransi diet sesuai kebutuhan secam parentotal atau peruntal
Rencana Tindakan :
1.       Berikan nutrisi parentonal sesuai kebutuhan
R/ Memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan.
2.       Pantau pemasukan makanan selama perawatan
R/ Mengetahui kseimbangan nutrisi sesuai kebutuhan.
3.       Pantau atau timbang berat badan
R/ Untuk mengetahui perubahan berat badan.
4.       Penatalaksanaan potensi selang NG
R/ Untuk mempertahankan dekampresi lambung / usus, meningkatkan istirahat / pemulihan usus.
3.       Kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan muntah dan diare
Tujuan : Kebutuhan cairan terpenuhi dalam waktu 1 x 24 jam
KH : - Turgor kulit baik
         - Tidak mengalami dehidrasi
Rencana Tindakan :
1.       Monitor tanda-tanda dehidrasi
R/ Mengetahui kondisi dan menentukan langkah selanjutnya.
2.       Monitor intake dan output
R/ Untuk mengetahui keseimbangan cairan tubuh.

3.       Berikan cairan sesuai kebutuhan dan yang dipergunakan
R/ Mencegah terjadinya dehidrasi.
4.       Ganguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan distensi abdomen
Tujuan : Nyeri berkuarang dalam waktu 1 x 24 jam
KH : - Px rileks
         - Px tenang
Rencana Tindakan :
1.       Obstruksi skala nyeri, lokasi dan frekuensi
R/ Mengetahui tingkat nyeri dan menentukan langka selanjutnya.
2.       Menganjurkan teknik relaksasi, distraksi
R/ Untuk mengurangi rasa nyeri.
3.       Kolaborasi dengan tim medis dalam pembelajaran analgesik

IV.  IMPLEMENTASI
Pelaksanakan merupakan pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Dalam operasionalnya perawat merupakan suatu tim yang bekerja sama secara berkesinambungan dengan berbagai tim. Seluruh kegiatan keperawatan atau catatan keperawatan. (Nasrul Effendi, 1995)

V.     EVALUASI 
Evaluasi merupakan tahap akhir dari suatu proses perawatan dan merupakan perbandingan yang sistemik dan terencana tentang kesehatan pasien dan sesama tenaga kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA


-          Arief Mansjoer, 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid III, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.

-          Marliy E. Dongeos dkk, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan . EGC, Jakarta.

-          Ngastiyah, (1997). Perawatan Anak Sakit, Penerbit buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Tidak ada komentar: